Sunday, November 05, 2006

Kronologis Tiba di Rinjani

Subuh itu, waktu masih menunjukkan pukul 05.00, fajar belum bersinar, kami bangun, hati kami terpanggil menunaikan kewajiban sebagai hamba, melaksanakan shalat shubuh berjamaah!
Tiga puluh menit kemudian kami meninggalkan Praya, rumah keluarga Erwin, menuju Aikmel yang menghabiskan kurang lebih 3 jam perjalanan. Tawa menghiasi perjalanan kami, apalagi kalo bukan masalah wanita, hal yang sepeleh tapi mampu membuat suasana mencair dalam mobil. Tapi ini tak mampu bertahan lama, rasa ngantuk yang menghinggapi lebih diprioritaskan, packing semalam membuat kami terlambat tidur.
Tak terasa kami tiba di Aikmel. Setelah menurunkan barang Andri dan Erick mencari mobil trayek Aikmel – Plawangan. Setelah melalui proses tawar menawar tiket yang lama, akhirnya harga jatuh pada Rp.10.000/orang. Dari desa Aikmel menuju desa Plawangan masih memakan waktu 2 jam. Mobil baru akan berangkat pukul 11.00, kami pun memanfatkan waktu untuk shooping. Illang membeli tembakau yang menurut dia tembakau asli no:1 red, Andri dan Bunet sibuk dengan bateray kamera, Alif, Ilyas menunggu di mobil, mungkin karena keasikan belanja kami sampai lupa kalau mobilnya akan berangkat, dasar dari sonohnya kali suka belanja. Alhamdulillah sopir mobilnya pengertian, mereka masih sabar menunggu kami menyelesaikan keperluan.
Karena merasa tidak ada wanita di atas mobil kamipun langsung mencari posisi tidur yang enak. Hari ini cuaca sangat panas sulit rasanya untuk memejamkan mata pada perjalanan yang melelahkan ini. Perjalanan makin diperparah dengan perut yang kosong, udara yang panas, dahaga dan jalan yang berkelok-kelok menambah lengkapnya penderitaan tim! Mungkin yang bisa menghibur hanya pemandangan yang indah dan monyet dipinggir jalan yang banyak, yang mungkin berucap, “Ayo photo kami, kami ingin photo kami berada di makassar”. Kondisi jalan yang tidak stabil dan berkelok-kelok, membuat salah satu diantara kami yang bernama tiiitttttt *disensor* mabuk darat.
Kira-kira pukul 13.00. kami tiba didesa Aikmel kamipun langsung menuju post lapor dan menyelesaikan administrasi. Makan siang dengan lauk yang dibawa dari rumah mengisi kekosongan perut kami. Pukul 13.30 kami meninggalkan post lapor menuju post 1 dengan jalan yang masih pengerasan, jalan aspal yang berbatu-batu. Sambutan hujan dan kabut yang cukup tebal dipersembahkan kepada kami sebelum tiba di pos1, dimana jarak pandang cuma 10 m. Jalan kami pun melambat. Kondisi ini juga cukup merepotkan dengan terpisahnya tim menjadi dua, karena kabut yang cukup tebal. Akhirnya dengan susah payah melewati kabut tim akhinya tiba di post 1. Segera kami mengambil kamera untuk foto-foto sambil merokok dan makan gula merah serta menikmati pemandangan yang tak ditemukan di Sulawesi, yaitu jalur larva yang berbentuk sungai tapi tidak mengalirkan air. Waktu menunjukkan pukul 15.00, dua puluh menit kami habiskan ditempat tersebut kemudian melanjutkan perjalanan. Hujan gerimis masih menyertai disamping kiri dan kanan membuat kami tak mampu menatap pemandangan padang rumput yang luas berwarna hijau kekuning-kuningan. Alhamdulillah kabut sudah mulai menipis dan pemandangan padang rumput yang indah pun tampak. Kesempatan ini tak kami sia-siakan untuk mengabadikan pemandangan yang indah ini. Sempat kami bergurau, seandainya nanti kami kaya kami akan bangun villa disini, dimana hanya ada kedamain dan ketenagan. Villa Appank berdiri megah dibelakang villa Andri. Ilyas dan Bunet memilih bukit luas yang tak jauh dari tempat tersebut sebagai lokasi villa mereka, he..he..namanya juga guraun. Setelah lelah dengan sesi pemotretan kamipun melanjutkan perjalanan.
Tak terasa kami sudah tiba di post 2, tanpa komando semua menurunkan carrier sambil berucap, “Mana rokok? Mana kamera? Keluarkan cemilan, mari kita nikmati padang rumput yang indah ini!” Waktu itu waktu menunjukkan pukul 16.00, sambil foto dan bercerita lucu mengurangi sedikit rasa capek dan dingin.
“Ayo pren…, kita lanjut… pos 3 sudah menunggu” Ucap Appang dengan semangat 45.
Kamipun bergegas packing dan langsung berangkat sebelum dingin kembali menggrogoti tubuh kami. Jalan masih tetap menanjak dan pemandangan masih padang rumput yang luas. Jalan dari post 1 ke 2 memang menanjak tetapi pos 2 ke 3 lebih menanjak seperti perjalanan menuju Gunung Latimojong, gunung tertinggi di Sulawesi Selatan. Perjalanan menuju pos 3 sebenarnya dapat di tempuh dengan waktu 1,5 jam, tapi kami kebanyakan istirahat dan pemotretan hingga perjaalanan harus molor 2 jam. Kami pun baru tiba pukul 18.00 di pos 3. Ketinggian 1800 Mdpl membuat tubuh kami merasakan kedingingan. Segera kami mendirikan tenda, mengganti pakaian basah akibat hujan, lalu mengambil air dan memasak. Hari yang sangat melelahkan! Akhirnya makan malam sudah tersaji di atas matras. Tanpa menunggu lama, kami langsung mengambil posisi siap tempur. Adapun menu hari itu pizza sebagai makanan pembuka dan ayam goreng sambal terasi sebagai menu utama dan ditutup dengan sop ayam wortel. Sebagai cuci mulutnya buah pepaya yang diiris kecil-kecil, es buah ala Rinjani. Minum susu sambil merokok juga menambah menu malam ini. Kenyang dech!
Siap – siap untuk ngopi dan ngeteh bareng bersama bintang tamu Appang yang lagi jatuh cinta sama cewek lombok.
“Indahnya bisa bercengkarama seperti ini sambil menikmati bintang-bintang di langit”, ucap Appang sebagai pembuka, memancing suasana untuk curhat-curhatan.
“Appang, apa bintang ta’?”, Tanya Andri menambah bahan untuk bercengkrama. Percakapan makin seru hingga berakhir pukul 23.00, dengan kesimpulan “Wanita tak selamanya harus dimengerti” ??)(*^@@$&&. Mungkin kerena capek dan perjalanan yang masih panjang, kami pun bergegas untuk tidur!
Pukul 07.00 kami pun bangun untuk sarapan. Kami terkaget melihat beberapa ekor monyet yang telah berdiri didepan tenda sambil mempermainkan tissue.
Ilyas mengerutu, “Tidak dimakan itu tolo.…” seolah monyet itu akan mengerti
Setelah beres-beres dan makan pagi kami melanjutkan perjalanan pada pukul 09.00 menuju Plawangan dan langsung disuguhi tracking dengan kemiringan 50 derajat.
“Pemanasan yang sempurna” kata Andri.
Hari ini kami harus berjalan selama 8 jam untuk sampai di Plawangan, dengan jalan seperti ini saya yakin kami tidak akan tiba tepat waktu di Plawangan. Selama dalam perjalanan tim terbagi, Bunet dan Appang sebagai leader, Illang, Alif, Ilyas ditengah dan Andri dan Akbar sebagai sweeper. Jalur kali ini beda dengan jalur yang kebanyakan di Sulawesi yang tertutup dan padat dengan pohon. Jalur ini terbuka dan pohon yg jarang, untung hari ini kabut, jadi tidak terlalu panas melewati jalur ini. Bisa dibayangkan jika matahari muncul persedian air akan lebih cepat habis dan tim akan kebanyakan istirahat, bahkan lebih banyak ngomel daripada jalan. Tidak ada makan siang bersama, terserah mau makan dimana karena tim sudah terbagi-bagi dan jarak yg sangat jauh untuk saling menunggu. Karena setiap tim membawa ransum maka diperbolehkan untuk makan asal ingat masih ada hari esok, lagipula kita disini cari senang dan belajar bukan cari susah, nyamanna tawwa..saddap..
Jam tangan dilirik, ternyata sudah pukul16.00, tak terasa sudah berjalan cukup lama. Kaki sudah letih, hati mengeluh, “kapaaaan sampainya…”. Kami pun berinisiatif untuk istirahat sejenak sambil merokok dan disuguhi pemandangan yang sangat indah. Lima belas menit cukup untuk bersantai. Kami melanjutkan perjalanan, belum sampai lima belas menit kami berjalan mata kami melihat tenda, tenda mapala 09 yang berdiri kokoh,
“Uhhh akhirnya kami tiba di Plawangan…”. Segera kami mengambil nesting untuk bersih-bersih.
“Ketinggian berapa ini kah? Dinginna airnya!” teriak Andri pada Illang
“2800 Mdpl” jawab Illang. Setelah semua tim membersihkan kaki dan membuat teh sore kami menunggu indahnya sunset di Plawangan. Lima menit kemudian, 4 orang bule menghampiri kami. Kami berbicang-bincang ala kadarnya, maklum bahasa inggris kami minim. Ternyata mereka dari Senaru tempat Danau Segara Anak yang indah itu. Keempat bule tersebut bersama 3 orang porter yang di upah Rp100 Ribu/orang dan Guide Rp 150 Ribu. Sunset telah berganti dengan langit hitam, kami kembali ke tenda untuk masak persiapan makan malam.
Sambil menuggu makanan kami berdiskusi, jam berapa sebaiknya kita start. Sedang yang lainnya sibuk mempersiapkan peralatan puncak mulai dari bendera, head lamp, sepatu, kaus kaki dll. Kami memutuskan untuk bangun jam2 dengan asumsi setelah bangun tinggal memasang sepatu dan masak air untuk menghangatkan badan, jam 3 start menuju puncak dan harus bangun tepat waktu. HP digunakan sebagai wekker untuk membangunkan kami. Setelah makan malam, dua jam kami habiskan untuk ngopi dan ngeteh sambil bercerita lucu untuk menahan dinginya malam. Pukul 22.00 kami pun sepakat untuk tidur, dinginya Plawangan membuat kami tak membutuhkan waktu cukup lama untuk tertidur. Tepat pukul 02.00 Hp pun berbunyi, segera kami bangun untuk memasang sepatu sambil bernyanyi, “Goyangko-goyanko…goyangko-goyangko..” Akhirnya apa yang kami tunggu – tunggu untuk mengibarkan bendera mapala 09 yang ke 2 kalinya betul-betul akan terlaksana, tepat pukul 03.00 kami berdoa semoga perjalanan kami dilindungnya sambil meneriakkan Teknik… Teknik… Teknik…
Satu jam pertama kami tidak menemukan jalur menuju puncak, kamipun berpencar mencari jalur ditengah dinginnya malam Perjalanan pun dilanjutkan setelah jalur ditemukan. Setelah berjalan selama ½ jam akhirnya kami menemukan medan berpasir yang dulunya cuma kami dengar dan lihat, sekarang kami bisa rasakan. Naik satu langkah turun setengah langkah, betul-betul perjuangan untuk sampai di puncak, untung saja kami memakai geters jadi pasir tidak akan masuk kedalam sepatu!
Akhirnya kami tiba di puncak Rinjani pukul 07.00 melalui perjuangan yang sangat –sangat keras! Tim mapala 09 tiba satu persatu di mulai dengan Bunet, Andri, Appang, Ilyas, Illang, Alief. Andri dan Appang langsung sujud mengucap syukur kepada Allah! .Perjuangan yang tak sia-sia..berkibarlah bendera mapalaku… Berkibarlah diseluruh puncak dunia ini…

1 Comments:

At 4:58 AM, Blogger www.semut_hitam@yahoo.co.id said...

aq salut buat kalian...dari kronologisnya aja aku dah jatuh cinta ma Rinjani>>>>3700 Mdpl..woow tinggi banget.....pokoknya aku terinspirasi tuk naik gunung juga.....

 

Post a Comment

<< Home